BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tanaman buah merah (Pandanus conoides) merupakan tanaman asli
Papua yang tumbuh dan berkembang pada dataran rendah, sekitar +10 m dpl sampai
dataran tinggi, sekitar 2.500 m dpl. Untuk membedakannya dengan spesies buah merah
yang berkhasiat obat tradisional, maka tanaman buah merah diperkenalkan dengan
sebutan tanaman Pandanus. Salah satu jenis yang telah lama dibudidayakan di
Priangan (Jawa Barat), adalah pandan sebagai bahan baku tikar dan kerajinan
tangan lainnya. Jenis ini lebih dikenal dengan nama tanaman Pandan. Keluarga
tanaman Pandanus, tersebar secara alami
di hutan Indonesia. Potensi genetik buah merah di habitat alaminya belum
diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan tanaman buah merah hanya salah satu
keluarga pandan, karena di Lembah Baliem Wamena, Pegunungan Fakfak, Manokwari
dan Jayapura diketahui ada 3 tipe/keluarga buah merah yang didasarkan pada
warna kulit buah, yaitu merah, coklat dan kuning. Menurut para petani di Jaya
Wijaya dan Tolikara, ketiga aksesi buah merah tersebut mempunyai kandungan
kadar bahan aktif yang berbeda. Namun dari ketiga tipe buah merah tersebut
belum diketahui tipe mana yang potensial dikembangkan sebagai varietas unggul.
Buah merah dikenal secara umum oleh masyarakat Papua sebagai bahan makanan yang
diolah menjadi saos makanan tradisional.
Meningkatnya permintaan pasar akan buah merah ini mendorong
meningkatnya kualitas ekonomi masyarakat Papua. Sebelumtahun 2000, pada umumnya
komoditi yang diperjual belikan di Papua berasal dari hasil hutan. Namun kini,
buah merah mulai dibudidayakan sebagai komoditas unggulan yang bernilai jual
tinggi sebagai sebagai obat tradisional.
BAB II
2.1 Potensi Buah Merah (Pandanus conoides)
Buah Merah
(Pandanus conoides) merupakan tanaman asli Papua yang tumbuh dan berkembang
pada dataran rendah, sekitar +10 m dpl sampai dataran tinggi, sekitar 2.500 m
dpl. tanaman endemik asli papua. Oleh masyarakat Wamena, Papua, buah ini disebut kuansu. Nama ilmiahnya Pandanus
Conoideus karena tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan, namun tinggi tanaman
dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8
m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.
Kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun
buah. Buah Merah sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan
bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau
sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat
kekuningan. Potensi genetik buah merah di habitat alaminya belum diketahui
dengan pasti. Ada yang mengatakan tanaman buah merah hanya salah satu keluarga
pandan, karena di Lembah Baliem Wamena, Pegunungan Fakfak, Manokwari dan
Jayapura diketahui ada 3 tipe/keluarga buah merah yang didasarkan pada warna
kulit buah, yaitu merah, coklat dan kuning. Menurut para petani di Jaya Wijaya
dan Tolikara, ketiga aksesi buah merah tersebut mempunyai kandungan kadar bahan
aktif yang berbeda. Namun dari ketiga tipe buah
merah tersebut belum diketahui tipe mana yang potensial dikembangkan sebagai
varietas unggul.
Bagi masyarakat di Wamena, Buah
Merah disajikan untuk makanan pada pesta adat bakar batu. Namun, banyak pula
yang memanfaatkannya sebagai obat. Secara tradisional, Buah Merah dari zaman
dahulu secara turun temurun sudah dikonsumsi karena berkhasiat banyak dalam
menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti mencegah penyakit mata, cacingan,
kulit, dan meningkatkan stamina. Buah
ini mengandung zat-zat alami yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan
proses metabolisme. Diantaranya adalah karotenoid, betakaroten, alfa tokoferol,
asamoleat, asam linoleat dan dekaonat,omega 3 dan omega 9 yang berperan sebagai
senyawa anti radikal bebas pengendali berbagai macam penyakit seperti kanker,
hipertensi, paru paru dan infeksi. Selain itu,buah merah mengandung banyak
kalori untuk menambah energi, kalsiu, serat, protein ditambah vitamin B1,
vitamin C dan niain. Kandungan kalorinya tinggi, mencapai 400 kilo kalori /100
gram daging buah. Adapun bagian yang dapat dikonsumsi adalah sari pati
nya, yang beberntuk sepertiminyak kental danberwarn
merah, serta mempuyai aroma seperti wijem. Kandungan antioksidan di dalam buah
merah (kandungan rata-rata) Karoten mencapai 12.000 ppm, Betakaroten mencapai
700 ppm) dan Tokoferol sebesar 11.000 ppm.
Tabel 1. Bahan Aktif Minyak Buah Merah
|
Bahan Aktif
|
Komposisi
|
|
Carotenoid
Tocopherol
Beta-carotene
Alpha tocopherol
Oleat acid
Linoleic acid
Decanoic
|
total 12.000 ppm
total 11.000 ppm
700 ppm
500 ppm
8,8%
7,8%
2,0%
|
Tabel 2. Nutrisi per
100gram Buah Merah
|
Nutrisi
|
Komposisi
|
|
Energi
Protein
Lemak
Serat
Kalsium
Fosfor
Besi
Vitamin B1
Vitamin C
Niasin
Water
|
396 cal
3.300 mg
28.100 mg
20.900 mg
54.000 mg
30 mg
2,44 mg
0,90 mg
25,70 mg
1,8 mg
34,90%
|
B. Kontribusi Sumber Daya Buah Merah
Terhadap Pembangunan Pertanian di Papua
Dalam keseharian
penduduk asli Papua, buah merah digunakan sebagai bumbu (gulai) makanan pokok
penduduk Papua. Selanjutnya pemanfaatannya meluas dan potensial yang digunakan
sebagai bahan baku obat tradisional.
Di awal tahun
2.000 tanaman Pandanus coineus mulai dikenal di luar Papua dan meledak
pada tahun 2001–2004 sebagai komoditas Jaya Wijaya yang paling dicari dan
berharga tinggi (Rp. 250.000,-/buah yang beratnya sekitar 5-8 kg). Hal ini
disebabkan karena buah merah diberitakan berguna sebagai sumber bahan baku obat
degeneratif seperti gangguan jantung, lever, kolesterol, diabetes, asam urat,
oteoporosis, serta anti infeksi HIV.
Sampai saat ini masyarakat Papua menggunakan ekstrak buah merah yang
diambil dari hutan untuk pengobatan berbagai penyakit, bagian yang digunakan
adalah buahnya yang mengandung zat gizi penting untuk ketahanan tubuh seperti
betakarotin, tokoferol, asam linolenat, asam oleat dan linoleat (Tabel 1).
Betakarotin dan tokoferol (Vit. E) dikenal sebagai senyawa anti oksidan yang
bisa menghambat perkembangan radikal bebas di dalam tubuh Buah merah dipasarkan
dalam bentuk buah dan minyaknya. Pasar buah merah juga secara tradisional turut
menyaring kualitas buah merah. Berdasarkan hasil analisis kandungan buah merah
ternyata kandungan minyak buah merah asal Tolikara lebih tinggi dibandingkan
yang berasal dari Jayapura, yakni sekitar 3–5 buah dapat menghasilkan 1 liter
minyak sedangkan buah asal Jayapura memerlukan 9 – 10 buah untuk dapat
menghasilkan 1 liter minyak.
BAB
III
SIMPULAN
DAN SARAN
3.1 Simpulan
Buah merah merupakan komoditi endemik
Papua dan tidak dapat tumbuh didaerah lain. Populasi tanaman buah merah di
Papua kebanyakan diambil dari hasil hutan. Harga buah merah yang melambung
akibat naiknya pamor buah merah sebagai "buah ajaib" penyembuh
berbagai macam penyakit mengakibatkan banyak orang yang memburu buah merah ini.
Buah merah menjadi incaran dikarenakan kandungan zat yang baik bagi tubuh cukup
tinggi.
3.2 Saran
Melakukan konservasi secara
in-situ pada buah merah merupakan cara yang tepat agar keberadaan buah merah
tetap lestari. BukAn tak mungkin bila buah merah akan punah bila produktivitas
dan permintaan hasil olahan meningkat tanpa di sertai dengan usaha
pembudidayaan. Melestarikan dan menjaga lahan tempat tumbuh buah merah adalah
salah satu usaha agar produksi buah merah terus di tingkatkan kualitasnya dan
diharapkan produksi buah merah menjadi berkualitas serta dapat memberikan
produk obat yang bernilai jual dan bernilai guna tinggi.
DAFTAR
PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. 2005. Papua
Dalam Angka. Tahun 2005
Budi, Made.
2003. Potensi Kandungan Gizi Buah Merah Sebagai Sumber Pangan
Aternatif Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Masyarakat Papua.
Kerja Sama
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten
Jayapura Dengan
Universitas Negri Papua
Hadad EA, M.
Eksplorasi dan Konservasi Tanaman Buah Merah (Pandanus
conoideus) Dalam Upaya Pengelolaan Sumber Daya Geetik Yang
Berkelanjutan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar