MARTUA SITORUS
Martua Sitorus atau dikenal juga dengan Thio Seeng Haap (吴笙福) adalah seorang pengusaha Indonesia. Ia bersama dengan Kuok Khoon Hong mendirikan perusahaan Wilmar International yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolah minyak sawit mentah (CPO) serta produsen gula. Pada 2013, majalah Forbes menempatkan Martua Sitorus sebagai orang terkaya no. 15 di Indonesia. Wilmar juga bekerja sama dengan perusahaan AS, Kellogg untuk menjual makanan di China dan mengakuisisi perusahaan tambang batu bara di Australia yakni Whitehaven Coal Ltd. Awalnya Martua Sitorus yang dilahirkan di Pematangsiantar, Sumatera Utara ini, berdagang udang waktu masih muda.
Martua Sitorus lahir di Pematang Siantar, sebuah kota di Sumatera Utara,
di tahun 1960. Pria yang memiliki nama asli Thio Seng Hap, adalah
pemilik perusahaan Wilmar International bersama Kuok Khoon Hong. Meraka
bergerak di bisnis sawit, dan menjadi perusahaan terbesar di dunia dari
usahnya tersebut. Di tahun 1991, perusahaan tersebut resmi berdiri
bermodal 7.100 hektar kebun sawit. Wilmar International juga mendirikan
pabrik pengolahan hingga Sumatera Utara.
Tidak semua orang batak bekerja sebagai pengacara, mereka juga pandai
berbisnis. Salah satunya, dan terbaik adalah Wilmar Sitorus pemilik
Wilmar International meski namanya cukup awam di Indonesia. Dia berhasil
masuk jajaran orang terkaya di Indonesia. Bisnisnya berbasis di
Singapura meliputi 48 perusahaan berbeda. Perusahaan itu, salah satunya
PT. Multimas Nabati Asahan memproduksi minyak goreng merek Sania.
Pada 2005, Wilmar International diperkirakan telah memiliki total aset
$.1,6 miliar, total pendapatan $.4,7 miliar dan laba bersih $.58juta.
Sejarah Wilamar International tidak lapas dari Mertua Sitorus, pria asli
Batak ini dulunya hanya minyak sawit kecil kecilan Indonesia-
Singapura. Pria 42 tahun, lulusan sarjana ekonomi HKBP Nommensen, Medan,
Sumatera Utara.
Menjadi sangat bersemangat, ia sukses berbisnis dan tumbuh hingga membeli 7.100 hektar kebun sawit di 1991. Usaha sawit lah yang membuat dirinya jadi pengusaha besar di Sumatera Utara. Di 1991, setalah mendirikan pabrik sawit, Martua bersiap ekspansi ke Malaysia dimana pasar kala itu masih bagus.
Menjadi sangat bersemangat, ia sukses berbisnis dan tumbuh hingga membeli 7.100 hektar kebun sawit di 1991. Usaha sawit lah yang membuat dirinya jadi pengusaha besar di Sumatera Utara. Di 1991, setalah mendirikan pabrik sawit, Martua bersiap ekspansi ke Malaysia dimana pasar kala itu masih bagus.
Warga Batak keturunan Tionghoa kemudian melebarkan sayapnya dengan bendera Wilmar International Limited. Pembangunan biodiesel dilakukan di Riau pada 2007 dengan membangun tig a pabrik biodiesel, masing-masing memiliki kapasitas produksi 350.000 ton per tahun, sehingga total kapasitasnya 1,050 juta ton per tahun. Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan. Salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan, yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania. Dalam laporan keuangan Wilmar, total aset Wilmar pada 2007 mencapai US$ 15,5 miliar, dengan pendapatan US$ 16,46 miliar. Pada tahun itu Wilmar juga bisa membukukan laba bersih US$ 675 juta.
Perusahaan memiliki beberapa usaha; penyuliang minyak goreng, pengepakan
dan penjualan, lemak khusus, oleokimia, produksi biodisel, dan
pengolahan biji- bijian. Pengepakanya akan meliputi (1). merchandising
minyak sawit dan produk laurics (semacam lemak nabati), (2). pengolahan
minyak sawit dan refinery, (3). peremukan, diolah dan refining untuk
manjadi minyak bisa dimakan, minyak sayur, biji- bijian dan kedelai.
Konsumennya meliputi China, Vietnam dan Indonesia, dan sudah berbentuk
hasil jadi siap pakai.
Bertambah tahun membuat bisnis Martua semakin bersinar meliputi berbagai
usaha. Utamanya, ia fokus kepada bisnis minyak kelapa sawit serta
turunannya. Di tahun 2000, perusahaanya PT.Multimas Nabati Asahan
memproduksi minyak goreng Sania. Per 31 Desember 2005, Wilmar
International memiliki 69.171 hektar, 65 pabrik, tujuh kapal tanker, dan
20.123 karyawan. Perusahaanya memiliki 30 negara tujuan eksportir.
Puncaknya, perusahaan Wilmar tecatat di bursa Singapura di Agustus 2005, dengan nilai saham $2 miliar. "Ia cukup berani mengambil resiko, jadi cepat pula ia mendapatkan keuntungan," ucap Derom Bangun, selaku ketua harian Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia). Ia menilai Martua sebagai sosok barani masuk ke pasar baru. Dia dinilai kreatif, dinamis, dan banyak ide. "Namun, ia memang tegolong orang yang low profil atau tak maun menonjol."
Kawan menyebutnya orang yang agresif dalam hal bisnis. Ia dapat melihat peluang di bisnis sawit kala itu, serta tahan banting hadapi krisis. Buktinya, meski krisis moneter 1997, dia mampu menghadapinya ketika perusahaan lain gulung tikar. Dia bahkan berhasil memberikan 2,5% tunjangan krisis kepada karyawan, bukanya memotong gaji mereka 2,5%. Dia memang tidak sendiri ketika membangun Wilmar International, bersama dengan Kuok Khoon Hong.
Kuok Khoon Hong, Pria berusia 57 tahun ini adalah keponakan Robert Kuok, raja bisnis gula dan properti Malaysia, bersama Martua sepakat mengembangkan bisnis bersama-sama. Wilmar sendiri disebut-sebut sebenarnya adalah singkatan dari kedua nama mereka, yaitu William, nama panggilan Kuok Khoon Hong, dan Martua Sitorus. Mereka berdua adalah pemilik signifikan Wilmar Holdings Pte Ltd (perusahaan holding Wilmar International Ltd).
Keduanya berbagi tugas, Kuok Khoon Hong sebagai chairman & CEO dan Martua sebagai chief operating officer (COO) Wilmar International Ltd. Keluarga besar Matua Sitorus berperan penting dalam bisnis, mereka menduduki jabatan penting. Istri (Rosa Taniasuri Ong), saudara laki-laki (Ganda Sitorus), saudara perempuan (Bertha, Mutiara, dan Thio Ida), dan ipar (Suheri Tanoto dan Hendri Saksti) menduduki posisi kunci di Wilmar Corp. Bahkan, Hendri Saksti diberi kepercayaan menjadi kepala operasional bisnis Wilmar di Indonesia.
Bisnis keduanya meningkat pesar di bulan pertama 2006, menghasilkan kenaikan 7,8% senilai S$3,7 miliar dibanding periode sama sebesar US$3,4 miliar di tahun 2005. Laba bersihnya selama sembilan bulan pertama 2006 tumbuh 56,4% mencapai US$68,3 juta dibanding periode yang sama 2005 sebesar US$43,6 juta. Keduanya berrencana ekspansi Wilmar ke bisnis biodiesel. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung menggebrak dengan membangun tiga pabrik biodiesel.
Ada beberapa isu menyangkut bisnis Wilmar Corp, terutama bisnis minyak sawit. Pertama, rencana merger Wilmar dan lini bisnis Kuok Group, milik taipan Robert Kuok, di bidang agrobisnis (PPB Oil Palms Berhad, PGEO Group Sdn. Bhd., dan Kuok Oil & Grains Pte Ltd). Nilai transaksi merger mencapai US$2,7 miliar. Merger ini ditaksir memberikan potensi kapitalisasi pasar Wilmar sebesar US$7 miliar. Merger ini diperkirakan juga akan menghasilkan kombinasi pendapatan US$10 miliar dan laba bersih US$300 juta selama sembilan bulan pertama 2006.
Pabrik- pabrik ini diperkirakan memiliki kapasitas produksi sampai 350.000 ton per tahun sehingga total kapasitasnya mencapai 1,050 juta ton per tahun. Sejauh ini, belum ada pabrik biodiesel milik perusahaan lain di dunia yang memiliki kapasitas produksi sebesar Wilmar. Sebagai tambahan, apabila rencana merger itu terealisasi, maka pabrik biodiesel milik PGEO Group Sdn. Bhd. dengan kapasitas 100.000 ton per tahun akan makin memperkuat bisnis biodiesel Wilmar.
Lainnya, Mertua aktif di bisnis kesahatan dengan membangun sebuah rumah sakit di Medan, Murnia Teguh Memorial Hospital. Rumah sakit yang ia persembahkan untuk ibunya, Murni Teguh. Rumah sakit tersebut didirikan 12 Desember 2012. Meskipun tinggal di Singapura, dia, istrinya dan tiga orang anak, tetaplah warga negara Indonesia, dan memiliki usaha sebagian besar di Indonesia.
Puncaknya, perusahaan Wilmar tecatat di bursa Singapura di Agustus 2005, dengan nilai saham $2 miliar. "Ia cukup berani mengambil resiko, jadi cepat pula ia mendapatkan keuntungan," ucap Derom Bangun, selaku ketua harian Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia). Ia menilai Martua sebagai sosok barani masuk ke pasar baru. Dia dinilai kreatif, dinamis, dan banyak ide. "Namun, ia memang tegolong orang yang low profil atau tak maun menonjol."
Kawan menyebutnya orang yang agresif dalam hal bisnis. Ia dapat melihat peluang di bisnis sawit kala itu, serta tahan banting hadapi krisis. Buktinya, meski krisis moneter 1997, dia mampu menghadapinya ketika perusahaan lain gulung tikar. Dia bahkan berhasil memberikan 2,5% tunjangan krisis kepada karyawan, bukanya memotong gaji mereka 2,5%. Dia memang tidak sendiri ketika membangun Wilmar International, bersama dengan Kuok Khoon Hong.
Sejarah Wilmar International
Kuok Khoon Hong, Pria berusia 57 tahun ini adalah keponakan Robert Kuok, raja bisnis gula dan properti Malaysia, bersama Martua sepakat mengembangkan bisnis bersama-sama. Wilmar sendiri disebut-sebut sebenarnya adalah singkatan dari kedua nama mereka, yaitu William, nama panggilan Kuok Khoon Hong, dan Martua Sitorus. Mereka berdua adalah pemilik signifikan Wilmar Holdings Pte Ltd (perusahaan holding Wilmar International Ltd).
Keduanya berbagi tugas, Kuok Khoon Hong sebagai chairman & CEO dan Martua sebagai chief operating officer (COO) Wilmar International Ltd. Keluarga besar Matua Sitorus berperan penting dalam bisnis, mereka menduduki jabatan penting. Istri (Rosa Taniasuri Ong), saudara laki-laki (Ganda Sitorus), saudara perempuan (Bertha, Mutiara, dan Thio Ida), dan ipar (Suheri Tanoto dan Hendri Saksti) menduduki posisi kunci di Wilmar Corp. Bahkan, Hendri Saksti diberi kepercayaan menjadi kepala operasional bisnis Wilmar di Indonesia.
Bisnis keduanya meningkat pesar di bulan pertama 2006, menghasilkan kenaikan 7,8% senilai S$3,7 miliar dibanding periode sama sebesar US$3,4 miliar di tahun 2005. Laba bersihnya selama sembilan bulan pertama 2006 tumbuh 56,4% mencapai US$68,3 juta dibanding periode yang sama 2005 sebesar US$43,6 juta. Keduanya berrencana ekspansi Wilmar ke bisnis biodiesel. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung menggebrak dengan membangun tiga pabrik biodiesel.
Ada beberapa isu menyangkut bisnis Wilmar Corp, terutama bisnis minyak sawit. Pertama, rencana merger Wilmar dan lini bisnis Kuok Group, milik taipan Robert Kuok, di bidang agrobisnis (PPB Oil Palms Berhad, PGEO Group Sdn. Bhd., dan Kuok Oil & Grains Pte Ltd). Nilai transaksi merger mencapai US$2,7 miliar. Merger ini ditaksir memberikan potensi kapitalisasi pasar Wilmar sebesar US$7 miliar. Merger ini diperkirakan juga akan menghasilkan kombinasi pendapatan US$10 miliar dan laba bersih US$300 juta selama sembilan bulan pertama 2006.
Pabrik- pabrik ini diperkirakan memiliki kapasitas produksi sampai 350.000 ton per tahun sehingga total kapasitasnya mencapai 1,050 juta ton per tahun. Sejauh ini, belum ada pabrik biodiesel milik perusahaan lain di dunia yang memiliki kapasitas produksi sebesar Wilmar. Sebagai tambahan, apabila rencana merger itu terealisasi, maka pabrik biodiesel milik PGEO Group Sdn. Bhd. dengan kapasitas 100.000 ton per tahun akan makin memperkuat bisnis biodiesel Wilmar.
Lainnya, Mertua aktif di bisnis kesahatan dengan membangun sebuah rumah sakit di Medan, Murnia Teguh Memorial Hospital. Rumah sakit yang ia persembahkan untuk ibunya, Murni Teguh. Rumah sakit tersebut didirikan 12 Desember 2012. Meskipun tinggal di Singapura, dia, istrinya dan tiga orang anak, tetaplah warga negara Indonesia, dan memiliki usaha sebagian besar di Indonesia.
Seorang teman Martua Sitorus mengatakan bahwa salah satu kunci sukses
Martua sangat berhasil di bisnisnya adalah karena ia sangat agresif dan
tidak ingin kehilangan peluang penjualan pada perusahaannya. Selain itu,
beberapa saudara dan kerabat juga menjadi ‘pentolan’ Wilmar yang mana
saudara dan kerabat menduduki jabatan penting dalam perusahaan. Wilmar,
baru-baru ini, dikabarkan sedang menjalin kerjasama bisnis dengan
perusahaan AS yang bergerak di bidang kuliner. Rencananya target bisnis
kuliner Wilmar dan Kellog, nama perusahaan asal AS tersebut, adalah Cina
.
Rencana Merger dan Bisnis Biodiesel
Saat ini ada dua isu yang mencuat mengenai Wilmar Corp. Pertama, rencana merger Wilmar dan lini bisnis Kuok Group, milik taipan Robert Kuok, di bidang agrobisnis (PPB Oil Palms Berhad, PGEO Group Sdn. Bhd., dan Kuok Oil & Grains Pte Ltd). Nilai transaksi merger itu mencapai US$2,7 miliar. Merger ini diperkirakan akan menjadikan Wilmar sebagai salah satu dari 15 perusahaan terbesar di bursa efek Singapura berdasarkan nilai kapitalisasi pasarnya. Sebab, merger ini ditaksir akan memberikan potensi kapitalisasi pasar Wilmar sebesar US$7 miliar. Merger ini diperkirakan juga akan menghasilkan kombinasi pendapatan US$10 miliar dan laba bersih US$300 juta selama sembilan bulan pertama 2006.
Sumber Warta Ekonomi menyebutkan langkah merger itu tak lepas dari situasi yang terjadi dalam keluarga taipan Robert Kuok. Konglomerat itu makin berusia lanjut, tetapi ia tidak merasa nyaman menyerahkan lini agrobisnis Kuok Group kepada anak-anaknya sehingga ia menoleh kembali kepada Kuok Khoon Hong, keponakannya. Pada awalnya, sebenarnya Kuok Khoon Hong adalah orang yang juga membesarkan lini agrobisnis Kuok Group. “Akan tetapi, karena ada perbedaan visi, Kuok Khoon Hong memilih keluar dari Kuok Group dan merintis bisnis sendiri bersama Martua Sitorus,” ujarnya. Kuok Khoon Hong mendapatkan pasokan minyak kelapa sawit dari Martua dan ia kemudian mengekspornya ke berbagai negara. “Dari kombinasi inilah embrio Wilmar muncul,” jelasnya.
Kedua, rencana ekspansi Wilmar ke bisnis biodiesel. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung menggebrak dengan membangun tiga pabrik biodiesel yang diagendakan akan selesai dibangun seluruhnya tahun ini. Masing-masing memiliki kapasitas produksi 350.000 ton per tahun sehingga total kapasitasnya mencapai 1,050 juta ton per tahun. Sejauh ini, belum ada pabrik biodiesel milik perusahaan lain di dunia yang memiliki kapasitas produksi sebesar Wilmar. Sebagai tambahan, apabila rencana merger itu terealisasi, maka pabrik biodiesel milik PGEO Group Sdn. Bhd. dengan kapasitas 100.000 ton per tahun akan makin memperkuat bisnis biodiesel Wilmar.
Menurut Alex Umboh, head of legal and corporate affairs Wilmar Corp. di Indonesia, bisnis biodiesel Wilmar sangatlah prospektif karena permintaan sudah banyak. Selain dari dalam negeri sendiri, permintaan juga datang dari Eropa, Cina, dan Amerika Serikat. Wilmar pun telah siap memasoknya. “Di kawasan industri Dumai itu (tempat ketiga pabrik biodiesel Wilmar berada), kami juga telah dilengkapi dengan pelabuhan dalam,” kata Alex. Jadi, Martua kini tak hanya pantas disebut “raja minyak sawit Asia”, tetapi juga layak disebut “raja biodiesel dunia”.
KESIMPULAN
Saat ini ada dua isu yang mencuat mengenai Wilmar Corp. Pertama, rencana merger Wilmar dan lini bisnis Kuok Group, milik taipan Robert Kuok, di bidang agrobisnis (PPB Oil Palms Berhad, PGEO Group Sdn. Bhd., dan Kuok Oil & Grains Pte Ltd). Nilai transaksi merger itu mencapai US$2,7 miliar. Merger ini diperkirakan akan menjadikan Wilmar sebagai salah satu dari 15 perusahaan terbesar di bursa efek Singapura berdasarkan nilai kapitalisasi pasarnya. Sebab, merger ini ditaksir akan memberikan potensi kapitalisasi pasar Wilmar sebesar US$7 miliar. Merger ini diperkirakan juga akan menghasilkan kombinasi pendapatan US$10 miliar dan laba bersih US$300 juta selama sembilan bulan pertama 2006.
Sumber Warta Ekonomi menyebutkan langkah merger itu tak lepas dari situasi yang terjadi dalam keluarga taipan Robert Kuok. Konglomerat itu makin berusia lanjut, tetapi ia tidak merasa nyaman menyerahkan lini agrobisnis Kuok Group kepada anak-anaknya sehingga ia menoleh kembali kepada Kuok Khoon Hong, keponakannya. Pada awalnya, sebenarnya Kuok Khoon Hong adalah orang yang juga membesarkan lini agrobisnis Kuok Group. “Akan tetapi, karena ada perbedaan visi, Kuok Khoon Hong memilih keluar dari Kuok Group dan merintis bisnis sendiri bersama Martua Sitorus,” ujarnya. Kuok Khoon Hong mendapatkan pasokan minyak kelapa sawit dari Martua dan ia kemudian mengekspornya ke berbagai negara. “Dari kombinasi inilah embrio Wilmar muncul,” jelasnya.
Kedua, rencana ekspansi Wilmar ke bisnis biodiesel. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung menggebrak dengan membangun tiga pabrik biodiesel yang diagendakan akan selesai dibangun seluruhnya tahun ini. Masing-masing memiliki kapasitas produksi 350.000 ton per tahun sehingga total kapasitasnya mencapai 1,050 juta ton per tahun. Sejauh ini, belum ada pabrik biodiesel milik perusahaan lain di dunia yang memiliki kapasitas produksi sebesar Wilmar. Sebagai tambahan, apabila rencana merger itu terealisasi, maka pabrik biodiesel milik PGEO Group Sdn. Bhd. dengan kapasitas 100.000 ton per tahun akan makin memperkuat bisnis biodiesel Wilmar.
Menurut Alex Umboh, head of legal and corporate affairs Wilmar Corp. di Indonesia, bisnis biodiesel Wilmar sangatlah prospektif karena permintaan sudah banyak. Selain dari dalam negeri sendiri, permintaan juga datang dari Eropa, Cina, dan Amerika Serikat. Wilmar pun telah siap memasoknya. “Di kawasan industri Dumai itu (tempat ketiga pabrik biodiesel Wilmar berada), kami juga telah dilengkapi dengan pelabuhan dalam,” kata Alex. Jadi, Martua kini tak hanya pantas disebut “raja minyak sawit Asia”, tetapi juga layak disebut “raja biodiesel dunia”.
KESIMPULAN
Dari biografi Martua Sitorus dapat disimpulkan bahwa,dia memiliki jiwa wirausaha yang bagus dan memiliki passion di bidang usaha.Martua Sitorus juga tidak pernah putus asa dalam menjalankan usahanya dan dia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi dan juga melibatkan keluarga dalam menjalankan usahanya.
SARAN
Sebaiknya,kita sebagai generasi muda dan sebagai Agent Of Change harus mencontoh dan mengikuti jejak Martua Sitorus sebagai pengusaha yang sukses agar dapat membanggakan bukan hanya keluarga,namun bangsa dan negara.Semoga kisah Martua Sitorus dapat menginspirasi dan memotivasi kita.
REFERENSI
https://id.wikipedia.org/wiki/Martua_Sitorus Diakses pada tanggal 20 Juni 2018
https://www.forbes.com/profile/martua-sitorus/ Diakses pada tanggal 20 Juni 2018
https://tirto.id/m/martua-sitorus-eo Diakses pada tanggal 20 Juni 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar