Jumat, 18 Oktober 2019

MAKALAH PENILAIAN HUTAN (KERUING)


Makalah Penilaian Hutan                                                                 Medan, Oktober 2019
PENILAIAN MANFAAT HASIL HUTAN BUKAN KAYU
(KERUING)

Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
Disusun Oleh :
Reza Irfansyah Putra
171201024

Manajemen Hutan 5






















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019





BAB I


PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hutan merupakan sumber kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan memiliki fungsi produksi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia baik yang berasal dari kayu dan non kayu. Hutan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, yaitu mencapai 99,6 juta hektar atau 52,3% dari luas wilayah Indonesia (Kemenhut, 2011). Luas hutan yang besar tersebut saat ini masih dapat di jumpai di Papua, Kalimantan,Sulawesi, dan Sumatera. Di Jawa, luas hutan telah mengalami banyak penurunan karena terjadi ahli fungsi untuk pertanian dan permukiman penduduk. Sementara itu, ahli fungsi hutan menjadi pertanian dan perkebunan banyak dijumpai di Sumatera dan Kalimantan.
Selain hutannya yang luas, hutan Indonesia juga menyimpan kekayaan flora dan fauna atau keanekaragaman hayati yang sangat besar. Bahkan, banyak diantaranya ditemukan spesies endemic atau hanya ditemukan di Indonesia, tidak ditemukan ditempat lainnya. Namun demikian, hasil hutan yang banyak dikenal penduduk adalah sebagai sumber kayu. Setidaknya terdapat 4.000 jenis kayu yang 267 jenis diantaranya merupakan kayu yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
      Krisis ekonomi yang telah melanda bangsa Indonesia berdampak pada keadaan perekonomian yang semakin sulit. Tingginya laju inflasi serta kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan itu akhirnya mendorong kenaikan tingkat bunga nominal dan berimbas langsung terhadap kegiatan investasi di sektor pertanian. Salah satu sumberdaya alam yang sangat besar manfaatnya bagi kesejahteraan manusia adalah hutan. Hutan juga merupakan modal dasar pembangunan nasional. Sebagai modal dasar pembangunan nasional, maka hutan tersebut harus kita jaga kelestariannya agar kelak manfaat hutan ini tidak hanya kita nikmati sekarang, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Oleh sebab itu, sumberdaya hutan ini perlu dikelola dengan baik dan tepat agar manfaat dan hasilnya dapat diperoleh secara maksimal dan lestari. Hutan mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan, yaitu berupa manfaat langsung yang dirasakan dan manfaat yang tidak langsung.
Manfaat hutan tersebut boleh dirasakan apabila hutan terjamin eksistensinya, sehingga dapat berfungsi secara optimal. Fungsi-fungsi ekologi, ekonomi dan sosial dari hutan akan memberikan peranan nyata apabila pengelolaan sumber daya alam berupa hutan seiring dengan upaya pelestarian guna mewujudkan pembangunan nasional berkelanjutan. Dari salah satu hasil hutan yang termasuk dalam pengelompokan hasil hutan tersebut yaitu Keruing.
Keruing atau Dipterocarpus adalah marga pepohonan penghasil kayu pertukangan yang berasal dari keluarga Dipterocarpaceae. Marga ini memiliki sekitar 70 spesies yang menyebar terutama di Asia Tenggara; mulai dari India dan Srilanka di barat, melalui Burma, Indocina dan Cina bagian selatan, Thailand, hingga ke kawasan Malesia bagian barat. Di wilayah Malesia, keruing tersebar di hutan-hutan Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, Filipina, Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa. Jadi umumnya tidak melewati garis Wallace, kecuali yang ditemukan di Lombok dan Sumbawa.Tumbuhan ini merupakan komponen yang penting dari hutan dipterokarpa. Nama ilmiahnya berasal dari bahasa Yunani yang berarti buah yang bersayap dua (di: dua; pteron: sayap; karpos: buah).
Kayu Keruing merupakan salah satu jenis kayu khas dari daerah tropis salah satunya seperti Indonesia. Selain dikenal sebagai kayu khas tropis, di Indonesia kayu. Tentunya, hal tersebut membuat popularitas kayu Keruing tambah naik dan memiliki nilai tawar di pasaran. Keruing pada umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat berbagai macam produk yang bernilai cukup tinggi dipasaran, oleh industri-industri dibuat menjadi  beraneka macam furniture, kusen, pimtu dan aneka macam kerajinan kayu yang lainnya. Semua jenis keruing juga menghasilkan semacam oleoresin yang dikenal sebagai minyak keruing atau minyak lagan akan tetapi hanya beberapa jenis saja yang mampu berproduksi dalam jumlah yang berarti untuk perdagangan. Secara lokal minyak ini digunakan untuk memakal (mendempul) perahu, sebagai pernis perabotan rumah atau dinding, serta obat luka atau sakit kulit tertentu.
1.2 Rumusan Masalah
1.                Apa itu keruing?
2.                Bagaimana cara mengolah minyak keruing?
3.                Bagaimana pemanfaatan minyak keruing?

1.3  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian keruing
2.      Untuk mengetahui dan memahami cara mengolah minyak keruing
3.      Untuk mengetahui dan memahami manfaat minyak keruing














BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis Pemanfaatan yang Bisa Dikembangkan
 Keruing yang merupakan pohon dominan dalam hutan alam hujan tropis basah, selain menghasilkan kayu yang laku diperdagangkan di pasar nasional maupun internasional juga menghasilkan produk non kayu berupa minyak keruing, damar, lemak tengkawang, kapur barus dan tannin.
Keruing menghasilkan kayu bangunan umum, baik untuk konstruksi menengah maupun berat. Hampir semua jenis kayu keruing mempunyai struktur, warna, kekuatan dan keawetan yang serupa. Oleh sebab itu, semuanya digolongkan ke dalam kelompok kayu perdagangan yang sama, yakni keruing. Meskipun demikian, karena variasi yang tinggi dalam kerapatan kayunya, kadang-kadang keruing dibedakan lagi atas subkelompok keruing ringan, menengah-berat, dan berat. Kayu keruing termasuk kuat (kelas kuat I-II) dan cukup awet (kelas awet III) Jika tidak diawetkan, kayu ini kurang tahan untuk pemakaian yang berhubungan dengan tanah, sehingga umumnya digunakan untuk keperluan interior seperti kusen pintu dan jendela, tiang, tangga, dan panel kayu lainnya. Di samping penggunaannya sebagai panel kayu, keruing juga secara luas dimanfaatkan untuk membuat venir dan kayu lapis. Kayu ini juga cukup baik untuk membuat papan partikel, harbol serta sebagai bahan bubur kayu untuk pembuatan kertas.
Pada pengolahan keseluruhan kayu kruing menjadi kusen pintu sangat baik, dalam pengerjaannya pun sangat mudah dikerjakan dan tidak banyak penyusutan atau pengembangan kayu dalam keadaan kering.Walau bagaimanapun kayu kruing menjadikan alternatif bagi kayu kamper samarinda yang akir-akhir ini harganya cenderung naik Penjelasan yang sedikit tentang kayu kruing membantu bagi yang menggunakan kayu kruing untuk bahan bangunan rumah.


2.2 Minyak dan Resin
Menurut Boer dan Ella (2001) Dipterocarpus spp. terdiri dari 70 jenis, tersebar dari Srilanka, India, Burma, Thailand, Indo-china, Cina Selatan, Philipina, Malaysia dan lndonesia. Selanjutnya dari jumlah tersebut hanya 20 jenis yang menghasilkan minyak.
 Daftar jenis pohon penghasil minyak keruing dari Dipterocarpaceae
No. Nama botanis Nama lokal
1. Dipterocarpus cornutus Keruing gajah
2. D. crinitus Keruing bulan
3. D. haseltii Keruing bunga
4. D. kerri Keruing gondola
5. D. grandiflorus Keruing belimbing
6. D. turbinatus -
7. D. tuberculatus -
8. D. alatus -
9. D. baudii Lagan senduk
10. D. caudatus Keruing gasing
11. D. confertus Keruing tempurung
12. D. costatus Keruing bukit
13. D. dyeri Keruing daun lebar
14. D. gracilis Keruing keladan
15. D. kunstleri Keruing lagan
16. D. palembanicus Lagan torop
17. D. sublamellatus Lagan buih
18. D. retusus Keruing gunung
19. D. validos Keladan
20. D. verrucosus Keruing beras
Sumber : Soerianegara dan Lemmens (1997)
Minyak keruing merupakan resin cair dengan nama ilmiah Oleoresin, nama lain adalah balsam, damar minyak atau minyak lagan. Minyak keruing berbau harum, lengket dan berminyak. Minyak keruing digunakan oleh masyarakat sekitar hutan untuk lampu penerangan (obor), dempul pada kapal kayu dan pelapis untuk meningkatkan ketahanan kayu terhadap air. Selain itu minyak keruing digunakan pula sebagai pernis ruangan dan bahan obat-obatan antara lain sebagai dis-infectant, laxative, diuretic, stimulant ringan dan analgesic liniments.
Minyak keruing diperoleh melalui penyadapan yaitu dengan cara membuat lubang sadap berbentuk segitiga pada batang pohon keruing berdiameter minimal 50 cm dan berada pada ketinggian 1 meter di atas permukaan tanah. Lubang di buat mengarah pada pusat batang. Pengumpulan minyak dilakukan di dalam lubang pada saat musim hujan (Nopember – Januari), dimana minyak banyak dihasilkan. Sisa minyak yang terdapat di dalam lubang harus dihilangkan dengan cara membakar, sehingga tidak terjadi penyumbatan dan aliran minyak dapat terus berlangsung.





































BAB III
           PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.    Potensi ekonomi keruing tidak hanya terbatas sebagai penghasil kayu, tetapi juga sebagai penghasil minyak keruing.
2.    Keruing pada umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat berbagai macam produk yang bernilai cukup tinggi dipasaran, oleh industri-industri dibuat menjadi  beraneka macam furniture, kusen, pimtu dan aneka macam kerajinan kayu yang lainnya.
3.    Keruing dibedakan atas subkelompok keruing ringan, menengah-berat
4.    Minyak keruing merupakan resin cair dengan nama ilmiah Oleoresin,
nama lain adalah balsam, damar minyak atau minyak lagan.
5.    Minyak keruing digunakan oleh masyarakat sekitar hutan untuk lampu penerangan (obor), dempul pada kapal kayu dan pelapis untuk meningkatkan ketahanan kayu terhadap air.




















DAFTAR PUSTAKA
Annonim. 1995. Ensiklopedi Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan    Kehutanan. Jakarta.

Boer, E and Ella, AB (Editors). 2001. Plant Resources of South-East Asia No.18. Plant Producing Exudates. Prosea, Bogor.

Http://www. Wikkipedia.keruing.kayu keruing.minyak keruing.co.id

Shiva, MP and I. Jantan. 1998. Non Timber Forest Products from Dipterocarps.In Appanah, S and JM. Turnbull (eds.). A Review of Dipterocarps Taxonomy, Ecology and Silviculture.

Soerianegara and Lemmens, RHMJ (Editors). 1997. Plant Resources of South-
                   East Asia No. 5 (1). Timber Trees: Commercial timbers. Prose, Bogor


MAKALAH SOSIOLOGI KEHUTANAN (ADAT DAN KEBUDAYAAN SUKU SASAK)

Makalah Sosiologi Hutan                                                              Medan, Oktober 2019
MASYARAKAT ADAT SUKU SASAK
(LOMBOK)
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
Disusun Oleh :
Reza Irfansyah Putra
171201024

Manajemen Hutan 5






















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia sebagai sebuah bangsa,terbentuk dari aneka kultur dan struktur social yang berbeda-beda. Berbeda dengan Jepang ataupun Korea,Indonesia memiliki kultur yang tidak homogen. Bahkan,untuk wilayah Papua saja terdapat kurang lebih 132 suku bangsa dan bahasa yang berlainan. Itu belum lagi sistem social dan budaya yang terdapat di Pulau Kalimantan,Sumatera,Jawa,dan lainnya.
Indonesia merupakan sebuah ide yang dibentuk oleh para Founding Fathers guna mempersatukan wilayah-wilayah nusantara ke dalam ikatan nasional yang lebih besar secara politik. Tatkala seseorang mempelajari budaya Sekaten di Keraton Yogyakarta,dapat saja dikatakan bahwa ia tengah mempelajari budaya Indonesia. Atau,dikala seorang peneliti mempelajari budaya pemeliharaan tanaman hutan pada suku Kubu di Jambi,ia juga dikatakan tengah mempelajari budaya Indonesia. Yogyakarta dan Jambi merupakan dua wilayah yang terikat ke dalam sebuah nasional yang bernama Indonesia.
Begitu juga ketika seorang mengkaji suku Sasak di Pulau Lombok,itu juga termasuk telah mempelajari budaya Indonesia,karena Lombok merupakan salah satu pulau berpenghuni yang berada dalam lingkaran ribuan gugusan kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berdasarkan uraian diatas,maka penulisan makalah ini difokuskan pada masyarakat dan kebudayaan suku Sasak di Pulau Lombok,Nusa Tenggara Barat.







1.2  Rumusan Masalah
1.                Dimana suku Sasak berada?
2.                Siapakah suku Sasak itu?
3.                Bagaimana sistem social masyarakat suku Sasak?
4.                Bagaimana kebudayaan suku Sasak tumbuh dan berkembang?
1.3  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui tempat keberadaan suku Sasak
2.      Untuk mengetahui dan memahami suku Sasak
3.      Untuk mengetahui dan memahami sistem social masyarakat suku Sasak
4.      Untuk mengetahui dan memahami perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan suku Sasak

























 BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Suku Sasak
           Suku Sasak adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang mendiami Pulau Lombok. Mayoritas suku Sasak beragama Islam,namun ada sebagian dari mereka yang berbeda dalam menjalankan ibadahnya,dan mereka disebut sebagai Islam Wetu Telu. Jumlah Islam Wetu Telu hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktik ibadah seperti itu. Selain itu ada pula sedikit warga suku Sasak yang masih menganut kepercayaan pra-Islam disebut dengan nama “Sasak Boda”.
Suku Sasak telah menghuni Pulau Lombok sejak 4.000 Sebelum Masehi. Ada pendapat yang mengatakan bahawa orang Sasak berasal dari percampuran antara penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa. Ada juga yang menyatakan leluhur orang Sasak adalah orang Jawa.



2.2 Sejarah Suku Sasak
Asal mula nama Sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Dalam kitab Negara Kertagama katas Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok Sasak Mirah Adhi. Dalam tradisi lisan warga setempat kata Sasak dipercaya berasal dari kata “sa’-saq” yang artinya satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa’saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. Banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. Lombo Mirah Sasak Adi adalah salah satu kutipan dari kakawin Nagarakretagama (Desawarnana),sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan kepemerintahan kerajaan Majapahit,gubahan Empu Prapanca. Kata “Lombok” dalam bahasa Kawi berarti lurus atau jujur, “Mirah” berarti permata, “Sasak” berarti kenyataan dan “Adi” artinya yang baik atau yang utama. Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.
Pendapat lain menurut Goris S., “Sasak secara etimologi,berasal dari kata “sah” yang berarti “pergi” dan ‘shaka” yang berarti “leluhur”. Dari pengertian inilah diduga bahwa leluhur orang Sasak itu adalah orang Jawa. Bukti lainnya merujuk kepada aksara Sasak yang digunakan oleh orang Sasak disebut sebagai “Jejawan”, ini merupakan aksara yang berasal dari tanah Jawa,pada perkembangannya,aksara ini diresepsi dengan baik oleh para pujangga yang telah melahirkan tradisi kesusastraan Sasak.
2.3. Bahasa
Bahasa yang diguanakan suku Sasak memiliki kedekatan dengan sistem aksara Jawa-Bali,sama-sama menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Kendati demikian,secara pelafalan,bahasa Sasak ternyata lebh memiliki kedekatan dengan bahasa Bali . Menurut penelitian para etnologi yang mengumpulkan hampir semua bahasa di dunia,menggolongkan bahasa Sasak kedalam rumpun bahasa Austronesia Malayu-Polinesian,juga ada kesamaan ciri dengan rumpun bahasa Sunda-Sulawesi,dan Bali-Sasak.
Bahasa Sasak yang digunakan di Lombok secara dialek dan lingkup kosakatanya dapat digolongkan kedalam beberapa bahasa sesuai dengan wilayah penuturnya,seperti:
1.      Mriak-Mriku (Lombok Selatan)
2.      Meno-Mene dan Ngeno-Ngene (Lombok Tengah)
3.      Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara)
4.      Kuto-Kute (Lombok Utara)



2.4 Adat
Salah satu adat istiadat suku sasak yang menonjol adalah adat dalam proses perkawinan. Perempuan yang mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu ke rumah keluarganya dari pihak laki-laki,ini yang dikenal dengan sebutan merarik atau pelarian.
Dalam proses pelarian gadis tidak perlu memberitahukan kepada orangtuanya. Namun,dalam pelarian ini memiliki aturan yang perlu diikuti. Salah satu aturan dalam mencuri gadis biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Gadis yang dibawa lari juga tidak langsung ke rumah laki-laki tetapi harus dititip di rumah kerabat lelaki tersebut.
Suku Sasak pada masa lalu secara social-politik,digolongkan dalam dua tingkatan social utama,yaitu:
1.      Golongan bangsawan yang disebut perwangsa.
2.      Bangsa Ama atau Jajar Karang sebagai golongan masyarakat kebanyakan
Golongan perwangsa initerbagi lagi atas dua tingkatan,yaitu:
1.      Perwangsa
Bangsawan penguasa (Perwangsa) umumnya menggunakan gelar Datu. Selain itu,mereka juga disebut Raden untuk kaum laki-laki dan Denda untuk permpuan.Seorang Raden jika menjadi penguasa maka berhak memakai gelar Datu. Perubahan gelar dan pengangkatan seorang bangsawan penguasa itu umumnya dilakukan melalui serangkaian upacara kerajaan.
2.      Triwangsa
Bangsawan rendahan (triwangsa) biasanya menggunakan gelar “Lalu” untuk para lelakinya dan “Baiq” untuk kaum perempuan. Tingkatan terakhir disebut Jajar Karang atau masyarakat biasa. Panggilan untuk kaum laki-laki di masyarakat umum ini adalah “Loq” dan untuk permpuan adalah “Le”.
            Golongan bangsawan baik Perwangsa dan Triwangsa disebut sebagai Permenak. Para Permenak ini ini biasanya menguasai sejumlah sumber dayadan juga tanah. Ketika kerajaan Bali dinasti Karangsemberkuasa di Pulau Lombok,mereka yang disebut Permenak kehilangan haknya dan hanya menduduki jabatan Pembekel (Pejabat pembantu kerajaan).
        Masyarakat Sasak sangat menghormati golongan Permenak baik berdasarkan ikatan tradisi dan atau berdasarkan ikatan kerajaan. Di sejumlah desa, seperti wilayah Praya dan Sakra, terdapat hak tanah perdikan (wilayah pemberian kerajaan yang bebas dari kewajiban pajak). Setiap penduduk mempunyai kewajiban apati getih, yaitu kewajiban untuk membela wilayahnya dan ikut serta dalam peperangan. Kepada mereka yang berjasa, Kerajaan akan memberikan beberapa imbalan, salah satunya adalah dijadikan wilayah perdikan.
      Landasan sistem sosial masyarakat dalam kehidupan suku Sasak umumnya mengikuti garis keturunan dari pihak laki-laki (patrilineal). Akan tetapi, dalam beberapa kasus hubungan masyarakatnnya terkesan bilateral atau parental (garis keturunan diperhitungkan dari kedua belah pihak; ayah dan ibu).
      Pola kekerabatan yang dalam tradisi suku sasak disebut Wiring Kadang ini mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya. Unsur-unsur kekerabatan ini meliputi Kakek, Ayah, Paman (saudara laki-laki ayah), Sepupu (anak lelaki saudara lelaki ayah), dan anak-anak mereka.
      Wiring Kadang juga mengatur tanggung jawab mereka terhadap masalah-masalah keluarga; pernikahan, masalah warisan dan hak-kewajiban mereka. Harta warisan disebut pustaka dapat berbentuk tanah, rumah, dan juga benda-benda lainnya yang merupakan peninggalan leluhur. Orang-orang Bali memiliki pola kekerabatan yang hampir sama disebut purusa dengan harta waris yang disebut pusaka.
2.5 Sistem Kepercayaan
      Kepercayaan asli suku Sasak adalah Boda, beberapa menyebutnya Sasak Boda. Walapun ada kesamaan pelafalan dengan Buddha, namun sistem kepercayaan Boda tidak memiliki kesamaan dan hubungan dengan Buddhisme. Agama Boda orang Sasak ini justru ditandai dengan penyembahan roh-roh leluhur mereka sendiri.
Beberapa agama seperti Hindu-Budha masuk kedalam suku ini ketika kerajaan Majapahit masuk. Dan kemudian suku Sasak memeluk agama islam setelah peran Sunan Giri dalam dakwahnya menyebarkan islam. Setelah perkembangan Islam, kepercayaan Suku Sasak sebagian berubah dari Hindu menjadi penganut Islam. Selanjutnya kepercayaan Suku Sasak diklasifikasikan tiga kelompok utama; Boda, Wetu Telu, dan Islam (Wetu Lima).
Penganut Boda sebagai komunitas kecil yang berdiam di wilayah pegunungan utara dan di lembah-lembah pegunungan Lombok bagian selatan. Kelompok Boda ini konon adalah orang-orang Sasak yang dari segi kesukuan, budaya, dan bahasa menganut kepercayaan asli. Mereka menyingkir ke daerah pegunungan melepaskan diri dari islamisasi di Lombok.
Sedangkan Agama Wetu telu awalnya memiliki ciri sama dengan Hindu-Bali dan Kejawen. Di antara unsur-unsur umum, peran leluhur begitu menonjol. Hal itu didasarkan pada pandangan yang berakar pada kepercayaan tentang kehidupan senantiasa mengalir.
Pada perkembangannya Wetu telu justru lebih dekat dengan Islam. Konon, sekarang hampir semua desa suku Sasak sudah menganut Agama Islam lima waktu dan meninggalkan Wetu telu sepenuhnya. Sementara sinkretisme Islam-Wetu telu kini berkembang terbatas di beberapa bagian utara dan selatan Pulau Lombok. Meliputi Bayan, dataran tinggi Sembalun, Suranadi di Lombok Timur, Pujut di Lombok Tengah, dan Tanjung di Lombok Barat.
Istilah Islam-Wetu Telu diberikan karena penganut kepercayaan ini beribadah tiga kali di bulan puasa, yaitu waktu Magrib, Isya, dan waktu Subuh. Di luar bulan puasa, mereka hanya satu hari dalam seminggu melakukan ibadah, yaitu pada hari Kamis dan atau Jumat, meliputi waktu Asar. Untuk urusan ibadah lainnya biasanya dilakukan oleh pemimpin agama mereka; para kiai dan penghulu.
2.6 Arsitektur Suku Sasak
      Rumah-rumah suku Sasak berbeda dengan arsitektur Bali pada umumnya. Di dataran, perkampungan suku Sasak cenderung luas dan melintang. Desa-desa Suku Sasak di wilayah pegunungan tertata rapi mengikuti perencanaan yang pasti. Di Lombok bagian utara, biasanya perkampungan Suku Sasak terdapat dua baris rumah tipe bale, dengan sederet lumbung padinya di satu sisi yang lain. Bangunan lain yang menjadi ciri khas perkampungan orang Sasak adalah rumah besar (bale bele).
Di antara deretan rumah-rumah itu dibangun balai yang bersisi terbuka (beruga) sebagai tempat pertemuan. Balai terbuka menyediakan panggung untuk kegiatan sehari-hari dalam fungsi hubungan sosial masyarakat. Balai ini juga digunakan untuk urusan keagamaan misalnya upacara penghormatan jenazah sebelum dikuburkan. Sementara makam leluhur yang terdiri dari rumah-rumah kayu dan bambu kecil dibangun di wilayah bagian atas dari perkampungan.
Sedikitnya ada empat jenis dasar lumbung dengan ukuran yang berbeda-beda. Semua lumbung, kecuali jenis lumbung padi yang berukuran kecil, memiliki panggung di bawah.
Di desa-desa Lombok bagian selatan, panggung yang berada di bagian bawah lumbung padi berperan sebagai balai. Di Lombok bagian utara, tidak semua desa memiliki lumbung padi.
Lumbung padi menjadi ciri khas yang sangat menarik dalam arsitektur suku Sasak. Bangunan Lumbung itu didirikan pada tiang-tiang dengan cara dan ciri khas yang mirip bangunan-bangunan Austronesia.

Bangunan ini memiliki atap berbentuk “topi” yang ditutup ilalang. Empat tiang besar menyangga tiang-tiang melintang di bagian atas tempat kerangka utama dibangun. Bagian atas  penopang kayu kemudian menguatkan rangka-rangka bambunya yang semua bagiannya ditutupi ilalang. Satu-satunya yang dibiarkan terbuka adalah sebuah lubang persegi kecil yang terletak tinggi di bagian ujung berfungsi untuk menaruh padi hasil panen. Untuk mencegah hewan pengerat masuk. Piringan kayu besar yang mereka sebut jelepreng, disusun di bagian atas puncak tiang dasarnya.
Rumah tradisional Suku Sasak berdenah persegi, tidak berjendela dan hanya memiliki satu pintu dengan pintu ganda yang telah diukir halus. Di bagian dalam, tidak terdapat tiang-tiang penyangga atap. Bubungan atapnya curam, terbuat dari jerami yang memiliki ketebalan kurang lebih 15 centimeter. Atap itu sengaja dibiarkan menganjur ke bagian dinding dasar yang hampir menutupi bagian dinding. Dinding terdiri dari dua bagian, bagian tengah yang menyatu dengan atap dibuat dari bambu, bagian bawah dibuat dari campuran lumpur, dan jerami yang permukaannya telah dipelitur halus.
Rumah digunakan terutama untuk tempat tidur dan memasak. Masyarakat Sasak jarang menghabiskan waktu di dalam rumah sepanjang hari. Di sisi sebelah kiri dibagi untuk tempat tidur anggota keluarga, juga terdapat rak di langit-langitnya untuk menyimpan pusaka dan benda berharga. Anak laki-laki tidur di panggung bawah bagian luar; anak perempuan tidur di atas bagian dalam panggung.
Untuk kegiatan memasak, bagian dalam rumah berisi tungku yang berada di sisi sebelah kanan yang dilengkapi rak-rak untuk menyimpan dan mengeringkan jagung. Kayu bakar disimpan di belakang rumah, kadang juga disimpan di bawah panggung.
2.7 Tradisi dan Seni
      Dari sejarahnya yang panjang, Suku Sasak bisa saja diidentifikasikan sebagai budaya yang banyak mendapat pengaruh dari Jawa dan Bali. Namun, kenyataannya kebudayaan Suku Sasak memiliki corak dan ciri budaya yang khas, asli dan sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku lainnya di Nusantara.
Berikut beberapa jenis seni dan tradisi yang cukup terkenal dari suku Sasak:
t Bau Nyale
Nyale adalah sejenis binatang laut, termasuk jenis cacing (anelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam alam kepercaan Suku Sasak, Nyale bukan sekedar binatang, beberapa legenda dari Suku ini yang menceritakan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale. Lainnya menyatakan bahwa Nyale adalah binatang anugerah, bahkan keberadaannya dihubungkan dengan kesuburan dan keselamatan.
Ritual Bau Nyale atau menangkap nyale digelar setahun sekali. Biasanya pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke-10 atau ke-11 menurut perhitungan tahun suku Sasak, kurang lebih berkisar antara bulan Februari atau Maret.



t Rebo Bontong
Suku Sasak percaya bahwa hari Rebo Bontong merupakan hari puncak terjadi bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo dan juga Bontong kurang lebih artinya “putus” atau “pemutus”.
Upacara Rebo Bontong dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini digelar setahun sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

t Bebubus Batu
Dari kata “bubus”, yaitu sejenis ramuan obat berbahan dasar beras yang dicampur berbagai jenis tanaman, dan dari kata batu yang merujuk kepada batu tempat melaksanakan upacara.Bebubus Batu adalah upacara yang digelar untuk meminta berkah kepada sang Kuasa. Upacara ini dilaksanakan tiap tahun, dipimpin oleh Penghulu (pemangku adat) dan Kiai (ahli agama). Masyarakat ramai-ramai mengenakan pakaian adat serta membawa dulang, sesajen dari hasil bumi.

t Sabuk Beleq
Sabuk Beleq Merujuk kepada sebuah pustaka sabuk yang besar (Beleq) bahkan panjangnya mencapai 25 meter, masyarakat Lombok khususnya mereka yang berada di wilayah Lenek Daya akan menggelar upacara pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Tradisi pengeluaran Sabuk Bleeq ini mereka awali dengan mengusung Sabuk Beleq mengelilingi kampung diiringi dengan tetabuhan gendang beleq. Ritual upacara kemudian dilanjutkan dengan menggelar praja mulud hingga diakhiri dengan memberi makan berbagai jenis makhluk. Upacara ini dilakukan untuk mempererat ikatan persaudaraan, persatuan dan gotong royong antar masyarakat, serta cinta kasih di antara makhluk Tuhan.
t Lomba Memaos
Memaos kurang lebih artinya membaca dan orang yang membaca di sebut pepaos. Lomba memaos adalah lomba untuk membaca lontar yang menceritakan hikayat dari leluhur mereka. Tujuan lomba pembacaan cerita ini adalah agar generasi selanjutnya dapat mengetahui kebudayaan dan sejarah masa lalu. Selain itu, Lomba ini juga dapat berfungsi sebagai regenerasi nilai-nilai sosia, budaya, dan tradisi pada generasi penerus. Satu kelompok pepaos biasanya terdiri dari 3-4 orang; pembaca, pejangga, dan pendukung vokal.

t Tandang Mendet
Tandang Mendet adalah tarian perang Suku Sasak. Konon Tarian ini telah ada sejak zaman Kerajaan Selaparang. Tarian yang menggambarkan keperkasaan dan perjuangan ini dimainkan oleh belasan orang dengan berpakaian dan membawa alat-alat keprajuritan lenggap; kelewang (pedang), tameng, tombak. Tarian diiringi dengan hentakan gendang beleq serta pembacaan syair-syair perjuangan.

t Peresean



Peresean suku sasak lombok

Kadang ada yang menulisnya Periseian dan atau Presean adalah seni bela diri yang dulu digunakan oleh lingkungan kerajaan. Peresean awalnya adalah latihan pedang dan perisai bagi seorang prajurit. Pada perkembangannya, latihan ini menjadi pertunjukan rakyat untuk menguji ketangkasan dan “keberanian”.

Senjata yang digunakan adalah sebilah rotan yang dilapisi pecahan kaca. Dan untuk menangkis serangan, pepadu (pemain) biasanya membawa sebuah perisai (ende) yan terbuat dari kayu berlapis kulit lembu atau kerbau. Setiap pepadu memakai ikat kepala dan mengenakan kain panjang.
Festival peresean diadakan setiap tahun terutama di Kabupaten Lombok Timur yang akan diikuti oleh pepadu dari seluruh Pulau Lombok.

t Begasingan
Permainan rakyat yang mempunyai unsur seni dan olahraga, bahkan termasuk permainan tradisional yang tergolong tua di masyarakat Sasak. Permainan tradisional ini juga dikenal di beberapa wilayah lain di Indonesia. Hanya saja, Gasing orang sasak ini berbeda baik bentuk maupun aturan permainannya. Gasing besar, mereka namai pemantok, digunakan untuk menghantam gasingpengorong atau pelepas yang ukurannya lebih kecil.

Begasingan berasal dari kata gang yang artinya “lokasi”, dan dari kata sing artinya “suara”. Permainan tradisional ini tak mengenal umur dan tempat, bisa siapa saja, bisa di mana saja.
A.    Alat Musik
t Slober
Alat musik tradisional Lombok yang cukup tua, unik, dan bersahaja. Slober dibuat dari pelepah enau dan ketika dimainkan alat musik ini biasanya didukung dengan alat musik lainnya seperti gendang, gambus, seruling, dll. Kesenian yang masih dapat anda saksikan hingga saat ini, sangat asyik jika dimainkan ketika malam bulan purnama.

t Gendang Beleq
Satu dari kesenian Lombok yang mendunia. Gendang Beleq merupakan pertunjukan dengan alat perkusi gendang berukuran besar (Beleq) sebagai ensembel utamanya. Komposisi musiknya dapat dimainkan dengan posisi duduk, berdiri, dan berjalan untuk mengarak iring-iringan.
Ada dua jenis gendang beleq yang berfungsi sebagai pembawa dinamika yaitu gendang laki-laki atau gendang mama dan gendang nina atau gendang perempuan).

Sebagai pembawa melodi adalah gendang kodeq atau gendang kecil. Sedangkan sebagai alat ritmis adalah dua buah reog, 6-8 buah perembak kodeq, sebuah petuk, sebuah gong besar, sebuah gong penyentak, sebuah gong oncer, dan dua buah lelontek. Menurut cerita, gendang beleq dahulu dimainkan bila ada pesta-pesta yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan. Bila terjadi perang gendang ini berfungsi sebagai penyemangat prajurit yang ikut berperang.























 BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.      Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang (masyarakat) dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sedangkan, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
2.      Pulau Lombok  adalah sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggarayang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelat barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. samudra indonesaia di sebelah utara dan samudra hindia disebelah seletan.
3.      Etnis Sasak merupakan etnis mayoritas penghuni pulau Lombok, suku sasak merupakan etnis utama meliputi hampir 95% penduduk seluruhnya. Pemeluk agama islam yang taat, dengan bahsa sasak sebagai bahasa utama dalam berkomonikasi kehidupan sehari-hari. Bermata pencaharian sebagai petani.
4.      Di daerah lombok secara umum terdapat 3 Macam lapisan sosial masyarakat, yaituGolongan Ningrat, Golongan Pruangse, dan Golongan Bulu Ketujur ( Masyarakat Biasa ).
5.      Adat istiadat suku sasak dapat di saksikan pada saat resepsi perkawinan, yang dikenal dengan sebutan "Merarik" atau "Selarian".
6.      Budaya Presean atau bertarung dengan rotan salah satu kekayaan budaya gumi (bumi) gogo rancah (lombok).  Berupa pertarungan dua lelaki Sasak bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) serta berperisai kulit kerbau tebal dan keras (ende). Petarung disebut pepadu. Acara tarung presean ini juga diadakan untuk menguji keberanian/nyali lelaki sasak yang wajib jantan dan heroik saat itu. Awalnya merupakan sebuah bagian dari upacara adat  yang menjadi ritual untuk memohon hujan ketika kemarau panjang.



 DAFTAR PUSTAKA
Asmito. 1992. Sejarah kebudayaan Indonesia IKIP Semarang Press, Semarang (E-Book)
www.wikipedia.com

MAKALAH PENILAIAN HUTAN (KERUING)

Makalah Penilaian Hutan                                                                     Medan, Oktober 2019 PENILAIAN MANFAAT HASI...