Makalah Sosiologi Hutan Medan, Oktober 2019
MASYARAKAT ADAT SUKU SASAK
(LOMBOK)
Dosen
Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko,
S.Hut, M.Si
Disusun
Oleh :
Reza Irfansyah Putra
171201024
Manajemen Hutan 5
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indonesia sebagai sebuah bangsa,terbentuk dari aneka
kultur dan struktur social yang berbeda-beda. Berbeda dengan Jepang ataupun Korea,Indonesia
memiliki kultur yang tidak homogen. Bahkan,untuk wilayah Papua saja terdapat
kurang lebih 132 suku bangsa dan bahasa yang berlainan. Itu belum lagi sistem social
dan budaya yang terdapat di Pulau Kalimantan,Sumatera,Jawa,dan lainnya.
Indonesia merupakan sebuah ide yang dibentuk oleh para
Founding Fathers guna mempersatukan
wilayah-wilayah nusantara ke dalam ikatan nasional yang lebih besar secara
politik. Tatkala seseorang mempelajari budaya Sekaten di Keraton Yogyakarta,dapat
saja dikatakan bahwa ia tengah mempelajari budaya Indonesia. Atau,dikala
seorang peneliti mempelajari budaya pemeliharaan tanaman hutan pada suku Kubu
di Jambi,ia juga dikatakan tengah mempelajari budaya Indonesia. Yogyakarta dan
Jambi merupakan dua wilayah yang terikat ke dalam sebuah nasional yang bernama Indonesia.
Begitu juga ketika seorang mengkaji suku Sasak di Pulau
Lombok,itu juga termasuk telah mempelajari budaya Indonesia,karena Lombok
merupakan salah satu pulau berpenghuni yang berada dalam lingkaran ribuan
gugusan kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berdasarkan uraian diatas,maka penulisan makalah ini
difokuskan pada masyarakat dan kebudayaan suku Sasak di Pulau Lombok,Nusa Tenggara
Barat.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Dimana suku Sasak berada?
2.
Siapakah suku Sasak itu?
3.
Bagaimana sistem social masyarakat suku Sasak?
4.
Bagaimana kebudayaan suku Sasak tumbuh dan berkembang?
1.3 Tujuan
Masalah
1. Untuk mengetahui tempat keberadaan suku Sasak
2.
Untuk mengetahui dan memahami suku Sasak
3. Untuk mengetahui dan memahami sistem social masyarakat
suku Sasak
4. Untuk mengetahui dan
memahami perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan suku Sasak
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Suku Sasak
Suku
Sasak adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang mendiami Pulau Lombok. Mayoritas
suku Sasak beragama Islam,namun ada sebagian dari mereka yang berbeda dalam
menjalankan ibadahnya,dan mereka disebut sebagai Islam Wetu Telu. Jumlah Islam Wetu
Telu hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktik ibadah seperti itu. Selain
itu ada pula sedikit warga suku Sasak yang masih menganut kepercayaan pra-Islam
disebut dengan nama “Sasak Boda”.
Suku Sasak telah
menghuni Pulau Lombok sejak 4.000 Sebelum Masehi. Ada pendapat yang mengatakan
bahawa orang Sasak berasal dari percampuran antara penduduk asli Lombok dengan
para pendatang dari Jawa. Ada juga yang menyatakan leluhur orang Sasak adalah
orang Jawa.
2.2 Sejarah Suku Sasak
Asal mula nama Sasak kemungkinan berasal dari kata
sak-sak yang artinya sampan. Dalam kitab Negara Kertagama katas Sasak disebut
menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok Sasak Mirah Adhi. Dalam tradisi
lisan warga setempat kata Sasak dipercaya berasal dari kata “sa’-saq” yang
artinya satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka
jika digabung kata Sa’saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. Banyak juga yang
menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. Lombo Mirah Sasak Adi adalah salah
satu kutipan dari kakawin Nagarakretagama (Desawarnana),sebuah kitab yang
memuat tentang kekuasaan dan kepemerintahan kerajaan Majapahit,gubahan Empu Prapanca.
Kata “Lombok” dalam bahasa Kawi berarti lurus atau jujur, “Mirah” berarti
permata, “Sasak” berarti kenyataan dan “Adi” artinya yang baik atau yang utama.
Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang
baik atau utama.
Pendapat lain menurut Goris S., “Sasak secara
etimologi,berasal dari kata “sah” yang berarti “pergi” dan ‘shaka” yang berarti
“leluhur”. Dari pengertian inilah diduga bahwa leluhur orang Sasak itu adalah
orang Jawa. Bukti lainnya merujuk kepada aksara Sasak yang digunakan oleh orang
Sasak disebut sebagai “Jejawan”, ini merupakan aksara yang berasal dari tanah Jawa,pada
perkembangannya,aksara ini diresepsi dengan baik oleh para pujangga yang telah
melahirkan tradisi kesusastraan Sasak.
2.3. Bahasa
Bahasa yang diguanakan suku Sasak memiliki
kedekatan dengan sistem aksara Jawa-Bali,sama-sama menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka.
Kendati demikian,secara pelafalan,bahasa Sasak ternyata lebh memiliki kedekatan
dengan bahasa Bali . Menurut penelitian para etnologi yang mengumpulkan hampir semua
bahasa di dunia,menggolongkan bahasa Sasak kedalam rumpun bahasa Austronesia Malayu-Polinesian,juga
ada kesamaan ciri dengan rumpun bahasa Sunda-Sulawesi,dan Bali-Sasak.
Bahasa Sasak yang digunakan di Lombok secara dialek
dan lingkup kosakatanya dapat digolongkan kedalam beberapa bahasa sesuai dengan
wilayah penuturnya,seperti:
1.
Mriak-Mriku (Lombok Selatan)
2.
Meno-Mene dan Ngeno-Ngene (Lombok Tengah)
3.
Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara)
4.
Kuto-Kute (Lombok Utara)
2.4
Adat
Salah satu adat istiadat suku sasak yang menonjol adalah adat dalam
proses perkawinan. Perempuan yang mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang
perempuan harus dilarikan dulu ke rumah keluarganya dari pihak laki-laki,ini
yang dikenal dengan sebutan merarik atau pelarian.
Dalam proses pelarian gadis tidak perlu memberitahukan kepada
orangtuanya. Namun,dalam pelarian ini memiliki aturan yang perlu diikuti. Salah
satu aturan dalam mencuri gadis biasanya dilakukan dengan membawa beberapa
orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk
mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Gadis yang
dibawa lari juga tidak langsung ke rumah laki-laki tetapi harus dititip di
rumah kerabat lelaki tersebut.
Suku Sasak pada masa lalu secara social-politik,digolongkan dalam dua
tingkatan social utama,yaitu:
1. Golongan bangsawan yang disebut perwangsa.
2. Bangsa Ama atau Jajar Karang sebagai golongan
masyarakat kebanyakan
Golongan perwangsa
initerbagi lagi atas dua tingkatan,yaitu:
1. Perwangsa
Bangsawan
penguasa (Perwangsa) umumnya menggunakan gelar Datu. Selain itu,mereka juga disebut
Raden untuk kaum laki-laki dan Denda untuk permpuan.Seorang Raden jika menjadi
penguasa maka berhak memakai gelar Datu. Perubahan gelar dan pengangkatan
seorang bangsawan penguasa itu umumnya dilakukan melalui serangkaian upacara
kerajaan.
2. Triwangsa
Bangsawan
rendahan (triwangsa) biasanya menggunakan gelar “Lalu” untuk para lelakinya dan
“Baiq” untuk kaum perempuan. Tingkatan terakhir disebut Jajar Karang atau
masyarakat biasa. Panggilan untuk kaum laki-laki di masyarakat umum ini adalah “Loq”
dan untuk permpuan adalah “Le”.
Golongan bangsawan baik Perwangsa
dan Triwangsa disebut sebagai Permenak. Para Permenak ini ini biasanya
menguasai sejumlah sumber dayadan juga tanah. Ketika kerajaan Bali dinasti Karangsemberkuasa
di Pulau Lombok,mereka yang disebut Permenak kehilangan haknya dan hanya
menduduki jabatan Pembekel (Pejabat pembantu kerajaan).
Masyarakat Sasak sangat menghormati golongan Permenak
baik berdasarkan ikatan tradisi dan atau berdasarkan ikatan kerajaan. Di sejumlah desa,
seperti wilayah Praya dan Sakra, terdapat hak tanah perdikan (wilayah pemberian
kerajaan yang bebas dari kewajiban pajak). Setiap penduduk mempunyai kewajiban
apati getih, yaitu kewajiban untuk membela wilayahnya dan ikut serta dalam
peperangan. Kepada mereka yang berjasa, Kerajaan akan memberikan beberapa
imbalan, salah satunya adalah dijadikan wilayah perdikan.
Landasan sistem sosial masyarakat
dalam kehidupan suku Sasak umumnya mengikuti garis keturunan dari pihak
laki-laki (patrilineal). Akan tetapi, dalam beberapa kasus hubungan
masyarakatnnya terkesan bilateral atau parental (garis keturunan diperhitungkan
dari kedua belah pihak; ayah dan ibu).
Pola kekerabatan yang dalam tradisi
suku sasak disebut Wiring Kadang ini mengatur hak dan kewajiban anggota
masyarakatnya. Unsur-unsur kekerabatan ini meliputi Kakek, Ayah, Paman (saudara
laki-laki ayah), Sepupu (anak lelaki saudara lelaki ayah), dan anak-anak
mereka.
Wiring Kadang juga mengatur tanggung
jawab mereka terhadap masalah-masalah keluarga; pernikahan, masalah warisan dan
hak-kewajiban mereka. Harta warisan disebut pustaka dapat berbentuk tanah,
rumah, dan juga benda-benda lainnya yang merupakan peninggalan leluhur.
Orang-orang Bali memiliki pola kekerabatan yang hampir sama disebut purusa
dengan harta waris yang disebut pusaka.
2.5 Sistem Kepercayaan
Kepercayaan asli suku Sasak adalah
Boda, beberapa menyebutnya Sasak Boda. Walapun ada kesamaan pelafalan dengan
Buddha, namun sistem kepercayaan Boda tidak memiliki kesamaan dan hubungan
dengan Buddhisme. Agama Boda orang Sasak ini justru ditandai dengan penyembahan
roh-roh leluhur mereka sendiri.
Beberapa agama seperti Hindu-Budha
masuk kedalam suku ini ketika kerajaan Majapahit masuk. Dan kemudian suku Sasak
memeluk agama islam setelah peran Sunan Giri dalam dakwahnya menyebarkan islam.
Setelah perkembangan Islam, kepercayaan Suku Sasak sebagian berubah dari Hindu
menjadi penganut Islam. Selanjutnya kepercayaan Suku Sasak diklasifikasikan
tiga kelompok utama; Boda, Wetu Telu, dan Islam (Wetu Lima).
Penganut Boda sebagai komunitas
kecil yang berdiam di wilayah pegunungan utara dan di lembah-lembah pegunungan
Lombok bagian selatan. Kelompok Boda ini konon adalah orang-orang Sasak yang
dari segi kesukuan, budaya, dan bahasa menganut kepercayaan asli. Mereka
menyingkir ke daerah pegunungan melepaskan diri dari islamisasi di Lombok.
Sedangkan Agama Wetu telu awalnya
memiliki ciri sama dengan Hindu-Bali dan Kejawen. Di antara unsur-unsur umum,
peran leluhur begitu menonjol. Hal itu didasarkan pada pandangan yang berakar
pada kepercayaan tentang kehidupan senantiasa mengalir.
Pada perkembangannya Wetu telu
justru lebih dekat dengan Islam. Konon, sekarang hampir semua desa suku Sasak
sudah menganut Agama Islam lima waktu dan meninggalkan Wetu telu sepenuhnya.
Sementara sinkretisme Islam-Wetu telu kini berkembang terbatas di beberapa
bagian utara dan selatan Pulau Lombok. Meliputi Bayan, dataran tinggi Sembalun,
Suranadi di Lombok Timur, Pujut di Lombok Tengah, dan Tanjung di Lombok Barat.
Istilah Islam-Wetu Telu diberikan
karena penganut kepercayaan ini beribadah tiga kali di bulan puasa, yaitu waktu
Magrib, Isya, dan waktu Subuh. Di luar bulan puasa, mereka hanya satu hari
dalam seminggu melakukan ibadah, yaitu pada hari Kamis dan atau Jumat, meliputi
waktu Asar. Untuk urusan ibadah lainnya biasanya dilakukan oleh pemimpin agama
mereka; para kiai dan penghulu.
2.6 Arsitektur Suku Sasak
Rumah-rumah suku Sasak berbeda
dengan arsitektur Bali pada umumnya. Di dataran, perkampungan suku Sasak
cenderung luas dan melintang. Desa-desa Suku Sasak di wilayah pegunungan
tertata rapi mengikuti perencanaan yang pasti. Di Lombok bagian utara, biasanya
perkampungan Suku Sasak terdapat dua baris rumah tipe bale, dengan sederet
lumbung padinya di satu sisi yang lain. Bangunan lain yang menjadi ciri khas
perkampungan orang Sasak adalah rumah besar (bale bele).
Di antara deretan rumah-rumah itu
dibangun balai yang bersisi terbuka (beruga) sebagai tempat pertemuan. Balai
terbuka menyediakan panggung untuk kegiatan sehari-hari dalam fungsi hubungan
sosial masyarakat. Balai ini juga digunakan untuk urusan keagamaan misalnya
upacara penghormatan jenazah sebelum dikuburkan. Sementara makam leluhur yang
terdiri dari rumah-rumah kayu dan bambu kecil dibangun di wilayah bagian atas
dari perkampungan.
Sedikitnya ada empat jenis dasar
lumbung dengan ukuran yang berbeda-beda. Semua lumbung, kecuali jenis lumbung
padi yang berukuran kecil, memiliki panggung di bawah.
Di desa-desa Lombok bagian selatan,
panggung yang berada di bagian bawah lumbung padi berperan sebagai balai. Di
Lombok bagian utara, tidak semua desa memiliki lumbung padi.
Lumbung padi menjadi ciri khas yang
sangat menarik dalam arsitektur suku Sasak. Bangunan Lumbung itu didirikan pada
tiang-tiang dengan cara dan ciri khas yang mirip bangunan-bangunan Austronesia.
Bangunan ini memiliki atap berbentuk
“topi” yang ditutup ilalang. Empat tiang besar menyangga tiang-tiang melintang
di bagian atas tempat kerangka utama dibangun. Bagian atas penopang kayu kemudian menguatkan
rangka-rangka bambunya yang semua bagiannya ditutupi ilalang. Satu-satunya yang
dibiarkan terbuka adalah sebuah lubang persegi kecil yang terletak tinggi di
bagian ujung berfungsi untuk menaruh padi hasil panen. Untuk mencegah hewan
pengerat masuk. Piringan kayu besar yang mereka sebut jelepreng, disusun di
bagian atas puncak tiang dasarnya.
Rumah tradisional Suku Sasak
berdenah persegi, tidak berjendela dan hanya memiliki satu pintu dengan pintu
ganda yang telah diukir halus. Di bagian dalam, tidak terdapat tiang-tiang penyangga atap. Bubungan atapnya
curam, terbuat dari jerami yang memiliki ketebalan kurang lebih 15 centimeter.
Atap itu sengaja dibiarkan menganjur ke bagian dinding dasar yang hampir
menutupi bagian dinding. Dinding terdiri dari dua bagian, bagian tengah yang
menyatu dengan atap dibuat dari bambu, bagian bawah dibuat dari campuran
lumpur, dan jerami yang permukaannya telah dipelitur halus.
Rumah digunakan terutama untuk
tempat tidur dan memasak. Masyarakat Sasak jarang menghabiskan waktu di dalam
rumah sepanjang hari. Di sisi sebelah kiri dibagi untuk tempat tidur anggota
keluarga, juga terdapat rak di langit-langitnya untuk menyimpan pusaka dan
benda berharga. Anak laki-laki tidur di panggung bawah bagian luar; anak
perempuan tidur di atas bagian dalam panggung.
Untuk kegiatan memasak, bagian dalam
rumah berisi tungku yang berada di sisi sebelah kanan yang dilengkapi rak-rak
untuk menyimpan dan mengeringkan jagung. Kayu bakar disimpan di belakang rumah,
kadang juga disimpan di bawah panggung.
2.7 Tradisi
dan Seni
Dari sejarahnya yang panjang, Suku Sasak bisa saja
diidentifikasikan sebagai budaya yang banyak mendapat pengaruh dari Jawa dan
Bali. Namun, kenyataannya kebudayaan Suku Sasak memiliki corak dan ciri budaya
yang khas, asli dan sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku lainnya
di Nusantara.
Berikut beberapa jenis seni dan
tradisi yang cukup terkenal dari suku Sasak:
t
Bau Nyale
Nyale adalah sejenis binatang laut,
termasuk jenis cacing (anelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam
alam kepercaan Suku Sasak, Nyale bukan sekedar binatang, beberapa legenda dari
Suku ini yang menceritakan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale. Lainnya
menyatakan bahwa Nyale adalah binatang anugerah, bahkan keberadaannya
dihubungkan dengan kesuburan dan keselamatan.
Ritual Bau Nyale atau menangkap
nyale digelar setahun sekali. Biasanya pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke-10
atau ke-11 menurut perhitungan tahun suku Sasak, kurang lebih berkisar antara
bulan Februari atau Maret.
t
Rebo Bontong
Suku Sasak percaya bahwa hari Rebo
Bontong merupakan hari puncak terjadi bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga
bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo
Bontong. Kata Rebo dan juga Bontong kurang lebih artinya “putus” atau
“pemutus”.
Upacara Rebo Bontong dimaksudkan
untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini digelar setahun
sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender
Hijriah.
t
Bebubus Batu
Dari kata “bubus”, yaitu sejenis
ramuan obat berbahan dasar beras yang dicampur berbagai jenis tanaman, dan dari
kata batu yang merujuk kepada batu tempat melaksanakan upacara.Bebubus Batu
adalah upacara yang digelar untuk meminta berkah kepada sang Kuasa. Upacara ini
dilaksanakan tiap tahun, dipimpin oleh Penghulu (pemangku adat) dan Kiai (ahli
agama). Masyarakat ramai-ramai mengenakan pakaian adat serta membawa dulang,
sesajen dari hasil bumi.
t
Sabuk Beleq
Sabuk Beleq Merujuk kepada sebuah
pustaka sabuk yang besar (Beleq) bahkan panjangnya mencapai 25 meter,
masyarakat Lombok khususnya mereka yang berada di wilayah Lenek Daya akan
menggelar upacara pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Tradisi
pengeluaran Sabuk Bleeq ini mereka awali dengan mengusung Sabuk Beleq
mengelilingi kampung diiringi dengan tetabuhan gendang beleq. Ritual upacara
kemudian dilanjutkan dengan menggelar praja mulud hingga diakhiri dengan memberi
makan berbagai jenis makhluk. Upacara ini dilakukan untuk mempererat ikatan
persaudaraan, persatuan dan gotong royong antar masyarakat, serta cinta kasih
di antara makhluk Tuhan.
t
Lomba Memaos
Memaos kurang lebih artinya membaca
dan orang yang membaca di sebut pepaos. Lomba memaos adalah lomba untuk membaca
lontar yang menceritakan hikayat dari leluhur mereka. Tujuan lomba pembacaan
cerita ini adalah agar generasi selanjutnya dapat mengetahui kebudayaan dan
sejarah masa lalu. Selain itu, Lomba ini juga dapat berfungsi sebagai
regenerasi nilai-nilai sosia, budaya, dan tradisi pada generasi penerus. Satu
kelompok pepaos biasanya terdiri dari 3-4 orang; pembaca, pejangga, dan
pendukung vokal.
t
Tandang Mendet
Tandang Mendet adalah tarian perang
Suku Sasak. Konon Tarian ini telah ada sejak zaman Kerajaan Selaparang. Tarian
yang menggambarkan keperkasaan dan perjuangan ini dimainkan oleh belasan orang
dengan berpakaian dan membawa alat-alat keprajuritan lenggap; kelewang
(pedang), tameng, tombak. Tarian diiringi dengan hentakan gendang beleq serta
pembacaan syair-syair perjuangan.
t
Peresean
Peresean suku sasak lombok
Kadang ada yang menulisnya Periseian
dan atau Presean adalah seni bela diri yang dulu digunakan oleh lingkungan
kerajaan. Peresean awalnya adalah latihan pedang dan perisai bagi seorang
prajurit. Pada perkembangannya, latihan ini menjadi pertunjukan rakyat untuk
menguji ketangkasan dan “keberanian”.
Senjata yang digunakan adalah
sebilah rotan yang dilapisi pecahan kaca. Dan untuk menangkis serangan, pepadu
(pemain) biasanya membawa sebuah perisai (ende) yan terbuat dari kayu berlapis
kulit lembu atau kerbau. Setiap pepadu memakai ikat kepala dan mengenakan kain
panjang.
Festival peresean diadakan setiap
tahun terutama di Kabupaten Lombok Timur yang akan diikuti oleh pepadu dari
seluruh Pulau Lombok.
t
Begasingan
Permainan rakyat yang mempunyai
unsur seni dan olahraga, bahkan termasuk permainan tradisional yang tergolong
tua di masyarakat Sasak. Permainan tradisional ini juga dikenal di beberapa
wilayah lain di Indonesia. Hanya saja, Gasing orang sasak ini berbeda baik
bentuk maupun aturan permainannya. Gasing besar, mereka namai pemantok,
digunakan untuk menghantam gasingpengorong atau pelepas yang ukurannya lebih
kecil.
Begasingan berasal dari kata gang
yang artinya “lokasi”, dan dari kata sing artinya “suara”. Permainan
tradisional ini tak mengenal umur dan tempat, bisa siapa saja, bisa di mana
saja.
A. Alat Musik
t
Slober
Alat musik tradisional Lombok yang
cukup tua, unik, dan bersahaja. Slober dibuat dari pelepah enau dan ketika
dimainkan alat musik ini biasanya didukung dengan alat musik lainnya seperti
gendang, gambus, seruling, dll. Kesenian yang masih dapat anda saksikan hingga
saat ini, sangat asyik jika dimainkan ketika malam bulan purnama.
t
Gendang Beleq
Satu dari kesenian Lombok yang
mendunia. Gendang Beleq merupakan pertunjukan dengan alat perkusi gendang
berukuran besar (Beleq) sebagai ensembel utamanya. Komposisi musiknya dapat
dimainkan dengan posisi duduk, berdiri, dan berjalan untuk mengarak
iring-iringan.
Ada dua jenis gendang beleq yang
berfungsi sebagai pembawa dinamika yaitu gendang laki-laki atau gendang mama
dan gendang nina atau gendang perempuan).
Sebagai pembawa melodi adalah
gendang kodeq atau gendang kecil. Sedangkan sebagai alat ritmis adalah dua buah
reog, 6-8 buah perembak kodeq, sebuah petuk, sebuah gong besar, sebuah gong
penyentak, sebuah gong oncer, dan dua buah lelontek. Menurut cerita, gendang
beleq dahulu dimainkan bila ada pesta-pesta yang diselenggarakan oleh pihak
kerajaan. Bila terjadi perang gendang ini berfungsi sebagai penyemangat
prajurit yang ikut berperang.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang (masyarakat) dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Sedangkan, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta
masyarakat.
2.
Pulau Lombok adalah
sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggarayang terpisahkan oleh
Selat Lombok dari Bali di sebelat barat dan Selat Alas di sebelah timur dari
Sumbawa. samudra indonesaia di sebelah utara dan samudra hindia disebelah
seletan.
3.
Etnis Sasak merupakan etnis mayoritas penghuni pulau Lombok,
suku sasak merupakan etnis utama meliputi hampir 95% penduduk seluruhnya.
Pemeluk agama islam yang taat, dengan bahsa sasak sebagai bahasa utama dalam
berkomonikasi kehidupan sehari-hari. Bermata pencaharian sebagai petani.
4.
Di daerah lombok secara umum terdapat 3 Macam lapisan sosial
masyarakat, yaituGolongan Ningrat, Golongan Pruangse, dan Golongan Bulu Ketujur
( Masyarakat Biasa ).
5.
Adat istiadat suku sasak dapat di saksikan pada saat resepsi
perkawinan, yang dikenal dengan sebutan "Merarik" atau
"Selarian".
6.
Budaya Presean atau bertarung dengan rotan salah satu
kekayaan budaya gumi (bumi) gogo rancah (lombok). Berupa pertarungan dua lelaki Sasak
bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) serta berperisai kulit kerbau tebal dan
keras (ende). Petarung disebut pepadu. Acara tarung presean ini juga diadakan
untuk menguji keberanian/nyali lelaki sasak yang wajib jantan dan heroik saat
itu. Awalnya merupakan sebuah bagian dari upacara adat yang menjadi ritual untuk memohon hujan
ketika kemarau panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Asmito. 1992. Sejarah
kebudayaan Indonesia IKIP Semarang Press, Semarang (E-Book)
www.wikipedia.com